BREAKING NEWS


Abner Tukang Luruskan Sejarah Jazirah Kao: Isam Bukan Suku, Tugua Malamo Disebut Milik Garis Keturunan Modole

Halmahera Utara, sibermalut.com – Abner Tukang memberikan penjelasan mengenai sejarah empat suku di Jazirah Kao, Maluku Utara, sekaligus meluruskan penyebutan Isam dan asal-usul gelar adat Tubol Malamok atau Tugua Malamo yang menurutnya perlu dipahami berdasarkan sejarah lisan dan garis keturunan leluhur.

Penjelasan tersebut disampaikan Abner pada (18/10/2026). Ia menegaskan, empat suku yang dikenal dalam tatanan adat Jazirah Kao di bawah naungan Kesultanan Ternate adalah Suku Modole, Pagu, Boeng, dan Towiliko.

Menurut Abner, Isam bukan nama suku tersendiri, melainkan bahasa atau dialek yang digunakan masyarakat Suku Pagu. Karena itu, ia meminta masyarakat membedakan identitas suku dengan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Empat suku di Jazirah Kao adalah Modole, Pagu, Boeng, dan Towiliko. Isam bukan suku, tetapi bahasa atau dialek yang digunakan oleh masyarakat Pagu,” demikian penjelasan Abner mengenai sejarah yang diwariskan secara lisan.

Selain persoalan Isam, Abner juga menyoroti penyebutan gelar adat Tubol Malamok dan Tugua Malamo. Ia menjelaskan, dalam penuturan sejarah yang diketahuinya, sebutan Tubol Malamok dikaitkan dengan Suku Pagu, sedangkan Tugua Malamo dikaitkan dengan garis keturunan tertentu pada Suku Modole.

Abner menyebut, terdapat pula penyebutan Tugua Malamo dalam kaitannya dengan Suku Tobaru dan Suku Modole. Ia menegaskan bahwa garis keturunan Tugua Malamo yang dimaksud merupakan bagian dari sejarah keluarga mereka.

Menurut Abner, salah satu bukti sejarah yang masih disimpan keluarganya adalah tongkat pemberian Sultan Ternate. Tongkat tersebut, kata dia, diberikan sebagai penghargaan atas jasa leluhur mereka yang menyelamatkan Sultan Ternate dari serangan Belanda.

Namun, klaim mengenai asal-usul gelar adat dan pemberian tongkat tersebut masih memerlukan penelusuran melalui sumber sejarah lain maupun keterangan tokoh adat terkait.

Abner juga menyebut Gunung Suli atau Gunung Gusulingi sebagai tempat yang berkaitan dengan keberadaan Tugua Malamo. Menurutnya, masyarakat Pagu mengenal kawasan tersebut dengan sebutan Gunung Suli.

Dalam penuturannya, wilayah yang berkaitan dengan tradisi tersebut membentang dari Lame, kawasan Pagu di Jailolo, Sahu Tobaru, hingga Tolo. Ia menggambarkan Tugua Malamo sebagai bagian dari warisan leluhur yang memiliki keterkaitan dengan penjagaan keseimbangan alam dan perdamaian.

Lebih lanjut, Abner menilai pemahaman mengenai identitas masyarakat Jazirah Kao perlu ditelusuri melalui berbagai peristiwa masa lalu. Ia menyinggung tragedi Palo-Palo, peristiwa yang disebut Re Re Tjinga di Desa Leleseng, serta tragedi Sungai Tabobo di wilayah Kao Teluk.

Menurutnya, penelusuran terhadap peristiwa-peristiwa tersebut penting untuk memahami hubungan historis masyarakat Modole, Pagu, Towiliko, dan Boeng dalam perjalanan sejarah Jazirah Kao.

Ia menekankan bahwa sejarah leluhur harus dipahami secara utuh, termasuk melalui penelusuran dokumen, tradisi lisan, dan keterangan para pemangku adat, agar tidak menimbulkan perbedaan penafsiran mengenai identitas suku maupun kedudukan gelar adat.

Abner berharap penjelasan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk menghormati warisan leluhur, menjaga identitas masing-masing, serta mempertahankan hubungan persaudaraan antarsuku di Jazirah Kao.

Baginya, sejarah Jazirah Kao tidak hanya berkaitan dengan nama suku dan gelar adat, tetapi juga menyangkut asal-usul, garis keturunan, serta tanggung jawab bersama dalam menjaga kedamaian.

Hingga berita ini dipublikasikan, tim media belum berhasil mengonfirmasi keterangan Abner kepada tokoh adat terkait maupun memperoleh pembanding dari sumber sejarah lainnya. Oleh karena itu, penjelasan mengenai asal-usul gelar Tugua Malamo, Tubol Malamok, serta sejarah pemberian tongkat Sultan Ternate masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.(red) 

Posting Komentar
ADVERTISEMENT
Designed by malut
ADVERTISEMENT