Tak Banyak Tersorot, Perempuan di Obi Kelola Kebun Hortikultura Mandiri
Font Terkecil
Font Terbesar
Halmahera Selatan, sibermalut.com – Di tengah berbagai perdebatan mengenai industri nikel di Pulau Obi yang kembali mencuat dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas pemberdayaan masyarakat di desa-desa lingkar kawasan industri terus berjalan. Salah satunya terlihat dari kegiatan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Soligi dan Kawasi yang kini aktif mengembangkan budidaya hortikultura sebagai sumber tambahan pendapatan keluarga. (01/06/2026).
Puluhan perempuan yang tergabung dalam kelompok tersebut rutin mengelola lahan pertanian dengan menanam berbagai komoditas seperti kangkung, cabai, kacang panjang, timun, dan bayam. Hasil panen yang diperoleh tidak hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mulai dipasarkan untuk kebutuhan lokal serta kawasan industri di Pulau Obi.
Ketua KWT Soligi, Jahariya, mengatakan kelompoknya secara rutin memasok hasil panen ke perusahaan.
“Kami tanam sayur, cabai, kacang panjang. Sayur dikirim ke perusahaan dua kali seminggu,” ujarnya.
Perkembangan tersebut tidak terlepas dari pendampingan melalui program Sekolah Ladang yang telah berjalan beberapa tahun terakhir. Program ini memberikan pelatihan kepada kelompok perempuan desa mengenai teknik budidaya hortikultura yang lebih terstruktur, mulai dari penyemaian bibit, pengelolaan lahan, hingga pengendalian hama.
Community Development Supervisor Harita Nickel, Albertus Darukumara, menjelaskan sebagian besar anggota kelompok merupakan ibu rumah tangga yang ingin berkontribusi terhadap perekonomian keluarga.
“Karena banyak laki-laki bekerja di perusahaan atau melaut, ibu-ibu ingin ikut membantu ekonomi keluarga melalui pertanian,” katanya.
Menurut Albertus, program pendampingan tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen, tetapi juga mendorong terbentuknya pola pertanian yang berkelanjutan dan mampu dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara sekaligus Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Maluku Utara, Syaiful Bahry, menilai keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi produktif memiliki dampak sosial yang signifikan.
“Ketika perempuan mulai memiliki ruang untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi produktif, dampaknya bukan hanya pada tambahan penghasilan, tetapi juga tumbuhnya kemampuan mengambil peran dalam keluarga maupun lingkungan sosialnya,” ujar Syaiful.
Ia menambahkan, pemberdayaan yang disertai pendampingan dan proses belajar berkelanjutan dapat membantu masyarakat mengembangkan kapasitas serta potensi ekonomi lokal secara lebih mandiri.
Saat ini, kelompok perempuan di Soligi dan Kawasi telah membudidayakan berbagai jenis sayuran dengan kualitas panen yang semakin baik dan pasokan yang lebih stabil. Ketua KWT Kawasi, Thofiya, mengaku hasil pertanian yang dikelola kelompoknya turut membantu memenuhi kebutuhan pendidikan keluarga.
“Kami bersyukur dari hasil panen bisa bantu biaya sekolah cucu sampai lulus SMA di Bacan,” ungkapnya.
Tokoh masyarakat Desa Soligi, Abu Jaya, juga melihat adanya perubahan positif dari keberadaan kelompok perempuan tani tersebut.
“Sekarang ibu-ibu sudah mulai punya kegiatan tetap. Mereka juga mulai belajar mengelola kebun secara kelompok,” katanya.
Keberadaan Kelompok Wanita Tani di Soligi dan Kawasi menjadi salah satu gambaran dinamika sosial masyarakat di Pulau Obi yang terus berkembang. Di tengah berbagai perbincangan mengenai industri nikel, aktivitas para perempuan tani menunjukkan upaya masyarakat desa dalam membangun kemandirian ekonomi melalui sektor pertanian yang dikelola secara bersama dan berkelanjutan. (red)



