Melepas Lahan, Menjemput Harapan: Kisah Warga Soligi dan Bandara Baru
Halmahera Selatan,sibermalut.com – Pembangunan infrastruktur di wilayah kepulauan terus menjadi harapan baru bagi masyarakat untuk membuka keterisolasian dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Di Pulau Obi, Maluku Utara, rencana pembangunan bandara mulai menghadirkan optimisme, khususnya bagi warga di Desa Soligi dan sekitarnya. (24/4/2026).
Keberadaan bandara diyakini akan memperpendek jarak tempuh, mempermudah mobilitas, serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat lokal. Harapan ini tercermin dari dukungan sejumlah warga yang secara sukarela melepas lahannya demi kelancaran proyek tersebut.
Salah satunya Ade Ahmad (48), warga Desa Soligi, yang memutuskan menjual lahannya sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan bandara. Ia menilai, langkah tersebut bukan sekadar transaksi, tetapi bagian dari upaya memperbaiki masa depan keluarga.“Saya menjual lahan karena mendukung pembangunan bandara, yang kami harapkan bisa membuka peluang usaha,” ujarnya.
Dari hasil penjualan lahan, Ade membangun rumah, menyiapkan biaya ibadah haji, serta menabung untuk masa depan anak-anaknya. Ia bahkan berharap dapat menunaikan ibadah haji pada 2028 mendatang.
“Manfaatnya besar buat saya. Insya Allah saya berangkat haji tahun 2028,” katanya.
Menurut Ade, kehadiran bandara akan membawa perubahan signifikan bagi kehidupan masyarakat. Akses yang lebih mudah dinilai akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan warga.
“Dengan adanya bandara, kehidupan masyarakat bisa lebih baik. Nanti ke mana-mana jadi lebih dekat,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Siti Aminah (52), yang juga melepas lahannya untuk pembangunan bandara. Lahan tersebut sebelumnya dikelola oleh almarhum suaminya dan ditanami berbagai komoditas seperti langsat, durian, dan cengkeh.
Meski sempat ragu, Siti akhirnya menyetujui penjualan lahan setelah mempertimbangkan manfaat jangka panjang bagi desa dan masyarakat.
“Perusahaan datang menawarkan, tapi kalau kami tidak mau jual, tidak ada paksaan. Jadi ini karena kesepakatan,” katanya.
Hasil penjualan lahan itu kemudian ia gunakan untuk membangun rumah dan membuka usaha kios.
Pengalaman warga Desa Soligi tersebut juga diperkuat oleh cerita dari Desa Kawasi. Nur Eneng Rahmat (33) menyebut proses pembebasan lahan dilakukan secara terbuka, dimulai dari sosialisasi hingga negosiasi harga.
“Sebelum pembebasan, tim perusahaan datang menjelaskan. Lahan diukur bersama pemilik yang berbatasan, lalu harga dinegosiasikan sampai sepakat,” ujarnya.
Dari hasil penjualan lahan, ia kini mengembangkan usaha kos-kosan yang menjadi sumber penghasilan baru. Ia bahkan menyebut proses tersebut lebih tepat disebut sebagai “ganti untung”.
“Menurut saya ini bukan ganti rugi, tapi ganti untung,” katanya.
Sementara itu, Madina Jouronga (55) memanfaatkan hasil penjualan lahannya untuk membeli speed boat yang kini menjadi usaha utama keluarganya.
“Saya jual karena mereka mau beli dan saya juga mau jual,” ujarnya.
Pihak perusahaan, melalui Land Data Management & Advocacy Manager Harita Nickel, Ary Pratama, menegaskan bahwa proses pembebasan lahan dilakukan secara terbuka dan melibatkan masyarakat sejak awal.
“Seluruh tahapan dilakukan mulai dari sosialisasi, pengukuran bersama, hingga pendataan aset sebelum penentuan nilai. Semua dilakukan secara transparan agar masyarakat memahami prosesnya,” jelas Ary.
Ia menambahkan, prinsip utama yang dijalankan adalah memastikan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak dalam setiap proses pembebasan lahan.
Bagi warga Soligi dan Kawasi, pelepasan lahan bukan hanya soal perpindahan kepemilikan, tetapi menjadi bagian dari harapan akan masa depan yang lebih baik—di mana akses terbuka dan peluang ekonomi semakin luas seiring hadirnya bandara di Pulau Obi. (dik)



